Langsung ke konten utama

Postingan

Sembuh Untuk Sakit

  "Aku ada salah ya?" "Kenapa diam?" "Aku buat salah apa, ndre?" "Andre!" …. Alarm jam handphone ku berbunyi. Jam digital yang tampak itu menunjukkan pukul lima tepat. Mataku yang masih terasa berat kupaksa terbuka agar tak lagi menyambangi dunia mimpi yang sebenarnya tidak terlalu indah-sama sekali tidak indah-. Dengan menarik napas agak panjang dan melepaskannya pelan-pelan, doa pagi kupanjatkan demi mengharap kebaikan untuk satu hari lagi yang bahkan sebelum dimulai sudah terasa panjang. "Tuhan, satu hari lagi. Bantu hamba. Mudahkan, lancarkan, segalanya. Kuatkan dari sisi manapun. Tidak ada air mata. Tidak ada kecewa." Berbekal doa itu, tubuhku sedikit terasa lebih tenang. Aku bergegas menuju kamar mandi. Menyeka sedikit demi sedikit tubuh yang terasa semakin ringkih. Bukan. Bukan karena dimakan usia. Bukan pertanda aku sudah tua. Tapi tubuh ini, sudah terlalu lemah menopang segala sesak perjalanan setiap harinya.  Empat puluh lima ...
Postingan terbaru

Sepi

Ada malam yang terasa panjang untuk dia yang menahan amarah di ujung dada Berusaha tidak dijamah agar tetap anggun namun kacau hampir membuatnya gila Tidak terdengar belum tentu tidak bersuara Tidak berisik belum tentu tidak gemerisik Kalau ditanya siapa yang paling pandai menyembunyikan? Jawabannya tentu aku Tersembunyi, bersembunyi, hingga menjadi busuk menusuk rusuk Sadar betul aku merugi jika terus-terusan begini Tapi sadar saja tidak cukup Predikat bodoh sudah menjadi nama tengah untukku yang tak bisa menyelarasakan hati dan pikir Rasa-rasanya tidak ada yang ingin menjadi aku Rasa-rasanya sekali dua menjadi tiada lebih bahagia Lihat! Baru saja aku menunjukkan sisi bodohku Lemah Tidak Sepi Itu aku Sepi di dalam kebodohanmu Membudak di dalam pikiranmu

PURNAMA DI UJUNG KASIH #2

              Apa yang paling melegakan selain bahwa kita tahu ada seseorang yang mencintai kita dengan sangat baik? Apa yang paling menyenangkan selain bahwa kita sadar cintanya seperti tetesan hujan yang akan datang lagi dan lagi. Tak peduli badai yang menyertai, kilat yang menghantui, tapi dia tetap bertahan demi kita. Apa yang lebih membahagiakan?             Di sudut ruang kelas di salah satu universitas, aku memandangi nya sambil memegangi gadget ku yang masih terpasang charger. Dia sibuk memainkan gadgetnya, entah apa yang sedang menarik perhatiannya. Hiruk suara satu dua teman yang sedang membicarakan entah apa terdengar. Mungkin sedang membahas persiapan diesnatalis organisasi atau cerita semalam saat ngopi di café. Dua tiga teman yang lain terlihat baru masuk kelas, wajahnya masih kusut. Kentara sekali mereka baru bangun tidur. Padahal kuliah kali ini pukul 4 so...

BERISTIRAHATLAH HATI

Malam menjadi semakin kelam kala dipaksa berkelana menyusuri kenangan Ingatan tentang fananya cerita dongengmu menyeruak masuk memenuhi angan-angan Padahal sudah ku ingatkan. Istirahatlah Apa gunanya kembali meratapi jalanan yang pernah kalian lewati Atau restoran favorite yang kini sudah tau kau kunjungi Padahal sudah ku ingatkan. Istirahatlah Tidak apa harapanmu yang lalu sudah menjadi semu Tidak apa untuk terlihat menyedihkan waktu lalu Tapi mau sampai kapan hatimu kau paksa mencintai ketiadaan Mau sampai kapan hatimu kau biarkan membusuk karena dengan sengaja ditusuk Padahal sudah ku ingatkan. Istirahatlah Jangan untuk sementara, jangan sebentar saja Tidak perlu mengulang-ulang menggulung kasih yang itu-itu saja Hancurkan kenanganmu hancurkan ingatanmu Tapi jangan hatimu Istirahat ya. Sudah cukup Jangan untuk sementara, jangan sebentar saja Jika perlu, selamanya Karena yang dibutuhkan hatimu adalah Waktu istirahat yang benar-benar mengistirahat...

PURNAMA DI UJUNG KASIH

            Malam ini lagi-lagi ditemani desiran ombak laut, kamu menggenggam tanganku. Sorotan matamu menelusuk jauh mengelilingi kornea mata. Aku kaku. Salah tingkah dengan perlakuanmu. Berkali-kali hal ini kamu lakukan, tapi kenapa aku masih saja deg-degan. Mungkin begini rasanya diistimewakan oleh seorang kamu. Mahasiswa rantau yang rela manjatuhkan cintanya padaku.             “ Wes poó ndelok e ” (Udahan dong liatnya). Kataku kemudian sambil berusaha melepas genggaman tanganmu yang masih hangat. Seakan tak terusik kamu masih saja menatapku.             “ Lapo seh? Ndelok pacare dewe kok gak oleh ” (Kenapa sih? Lihat pacarnya sendiri kok gak boleh).” Kamu menjawab sambil melepas pandangan itu. Beralih menatap purnama yang sedari tadi menjadi orang ketiga diantara kita.        ...