"Aku ada salah ya?" "Kenapa diam?" "Aku buat salah apa, ndre?" "Andre!" …. Alarm jam handphone ku berbunyi. Jam digital yang tampak itu menunjukkan pukul lima tepat. Mataku yang masih terasa berat kupaksa terbuka agar tak lagi menyambangi dunia mimpi yang sebenarnya tidak terlalu indah-sama sekali tidak indah-. Dengan menarik napas agak panjang dan melepaskannya pelan-pelan, doa pagi kupanjatkan demi mengharap kebaikan untuk satu hari lagi yang bahkan sebelum dimulai sudah terasa panjang. "Tuhan, satu hari lagi. Bantu hamba. Mudahkan, lancarkan, segalanya. Kuatkan dari sisi manapun. Tidak ada air mata. Tidak ada kecewa." Berbekal doa itu, tubuhku sedikit terasa lebih tenang. Aku bergegas menuju kamar mandi. Menyeka sedikit demi sedikit tubuh yang terasa semakin ringkih. Bukan. Bukan karena dimakan usia. Bukan pertanda aku sudah tua. Tapi tubuh ini, sudah terlalu lemah menopang segala sesak perjalanan setiap harinya. Empat puluh lima ...
Ada malam yang terasa panjang untuk dia yang menahan amarah di ujung dada Berusaha tidak dijamah agar tetap anggun namun kacau hampir membuatnya gila Tidak terdengar belum tentu tidak bersuara Tidak berisik belum tentu tidak gemerisik Kalau ditanya siapa yang paling pandai menyembunyikan? Jawabannya tentu aku Tersembunyi, bersembunyi, hingga menjadi busuk menusuk rusuk Sadar betul aku merugi jika terus-terusan begini Tapi sadar saja tidak cukup Predikat bodoh sudah menjadi nama tengah untukku yang tak bisa menyelarasakan hati dan pikir Rasa-rasanya tidak ada yang ingin menjadi aku Rasa-rasanya sekali dua menjadi tiada lebih bahagia Lihat! Baru saja aku menunjukkan sisi bodohku Lemah Tidak Sepi Itu aku Sepi di dalam kebodohanmu Membudak di dalam pikiranmu