Apa yang paling melegakan selain bahwa kita tahu ada seseorang yang mencintai kita dengan sangat baik? Apa yang paling menyenangkan selain bahwa kita sadar cintanya seperti tetesan hujan yang akan datang lagi dan lagi. Tak peduli badai yang menyertai, kilat yang menghantui, tapi dia tetap bertahan demi kita. Apa yang lebih membahagiakan?
Di sudut ruang kelas di salah satu universitas, aku memandangi nya sambil memegangi gadget ku yang masih terpasang charger. Dia sibuk memainkan gadgetnya, entah apa yang sedang menarik perhatiannya. Hiruk suara satu dua teman yang sedang membicarakan entah apa terdengar. Mungkin sedang membahas persiapan diesnatalis organisasi atau cerita semalam saat ngopi di café. Dua tiga teman yang lain terlihat baru masuk kelas, wajahnya masih kusut. Kentara sekali mereka baru bangun tidur. Padahal kuliah kali ini pukul 4 sore.
Aku kembali melihat ke arah nya, lekat-lekat. Erat-erat. ‘Temen jadi Demen’. Itu yang dari tadi berputar di kepala. Dia dia dia, siapa? Dia kekasihku. Yang waktu itu sepenggal cerita kita sudah ku ceritakan. Ingatan tentang hari itu terbayang lagi. Hari dimana, ‘Temen jadi Demen’ benar-benar terjadi.
24 Oktober 2018
Di kamar kosan, aku memandangi tupukan kertas yang isinya lembar pengesahan. Deadline sudah sangat dekat. Acara sudah akan dimulai beberapa minggu lagi, tapi tanda tangan pejabat-pejabat penting ini belum juga kudapat. Iya, kali ini aku harus bertanggung jawab menjadi sekretaris kegiatan.
‘Tintung’. Ringtone hp ku berbunyi, pertanda ada chat masuk
Im : Nanti jadi kan?
Ay : Jam berapa? Kamu bukannya ada rapat?
Im : Sek masih nanti habis isya
Terlihat sekali dia benar-benar berusaha supaya malam ini kita jadi jalan-jalan. Kalau diingat lucu juga.
Ay : Jadi minta tanda tangan kapan?
Tanyaku. Kemaren dia memang menjanjikan akan membantuku mencari tanda tangan untuk proposal ini.
Im : Aku telvon dulu orangnya
Oke dia memang banyak kenal dengan pejabat-pejabat itu. Menguntungkan juga buatku.
Setelah mendapatkan dua tanda tangan pejabat, kami jalan-jalan. Menyusuri jalanan yang dingin dan gelap. Hujan baru saja berhenti. Sekarang tinggal genangannya saja yang tertinggal di jalan. Aku kedinginan, tapi tidak bilang. Buat apa, gengsi pikirku. Aku ini siapa, berani-berani nya merajuk kedinginan. Jangankan memeluk, saat itu pegang ujung bajunya saja sudah malu.
Kita memutuskan untuk beli telur gulung di depan Stadion kota.
Karena baru saja hujan, jadi disini tidak seramai biasanya. Lucunya dia mengaku
stadion ini sudah dia booking khusus untuk malam ini. Malam yang akan menjadi
sejarah. Malam yang tidak akan pernah aku lupa.
Telur gulung pesanan kami datang.
Ini telur gulung yang enak. Sampai sekarang pun, setiap kami ke kota, telur
gulung stadion selalu jadi tujuan utama. Dia mengambil satu untuk di makan.
Kepulan asap yang mengudara menandakan telur gulung ini tepat untuk menghangatkan
suasana saat ini. Untuk selanjutnya kepulan asap ini, kita kenang dengan
sebutan ‘kebul-kebul’.
Setelah memakan beberapa tusuk, dia menghentikan acara makannya. Melihatku sejenak, kemudian berkata, “Aku pengen ngomong” (Aku mau ngomong).
Aku menoleh, menatapnya juga. Tapi hanya sebentar. Aku tidak bisa, tidak kuat melihat dia. Dengan gayanya yang dibuat seserius mungkin. Dia tidak pernah seperti ini. Seperti bukan dia saja.
“Aku pengen ngomong” (Aku mau ngomong). Ulangnya lagi.
“Ngomong opo? (Ngomong apa?)” Jawabku singkat.
Dia masih menatapku. Aku, mengalihkan pandang. Sesekali aku buat jeda diantara kecanggungan ini. Sepeda motor yang lewat, gerimis yang masih sedikit terasa, dan apapun itu berhasil kujadikan alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku pengen serius karo awakmu” (Aku mau serius sama kamu). Akhirnya kata-kata itu keluar juga. Dia dengan mantap dan yakin mengatakan itu. Jujur saja aku senang. Senang akhirnya dia membuktikan. Senang karena akhirnya aku tau aku harus apa.
Adegan selajutnya adalah kesepakatan kita, untuk bersama, berkomitmen, dan saling menjaga.
Sungguh kejadian itu sama sekali tidak pernah kuduga. Bahkan
dia sekalipun, tidak pernah menyangka akan mengatakan cinta kepada temannya
sendiri.
Hahaha, lucu sekali ya. Aku
menyayanginya. Sangat. Sebagai teman. Sebagai kekasihku. Terima kasih ya sudah mengusahakanku
waktu itu. Terima kasih untuk tidak pernah menyerah kepada kita. Terima kasih
sudah menjadi laki-laki ku sampai saat ini.
Komentar
Posting Komentar