Langsung ke konten utama

Sembuh Untuk Sakit

 "Aku ada salah ya?"

"Kenapa diam?"

"Aku buat salah apa, ndre?"

"Andre!"

….

Alarm jam handphone ku berbunyi. Jam digital yang tampak itu menunjukkan pukul lima tepat. Mataku yang masih terasa berat kupaksa terbuka agar tak lagi menyambangi dunia mimpi yang sebenarnya tidak terlalu indah-sama sekali tidak indah-. Dengan menarik napas agak panjang dan melepaskannya pelan-pelan, doa pagi kupanjatkan demi mengharap kebaikan untuk satu hari lagi yang bahkan sebelum dimulai sudah terasa panjang.

"Tuhan, satu hari lagi. Bantu hamba. Mudahkan, lancarkan, segalanya. Kuatkan dari sisi manapun. Tidak ada air mata. Tidak ada kecewa."

Berbekal doa itu, tubuhku sedikit terasa lebih tenang. Aku bergegas menuju kamar mandi. Menyeka sedikit demi sedikit tubuh yang terasa semakin ringkih. Bukan. Bukan karena dimakan usia. Bukan pertanda aku sudah tua. Tapi tubuh ini, sudah terlalu lemah menopang segala sesak perjalanan setiap harinya. 

Empat puluh lima menit kemudian, seragam batik dan sepatu pantofel lengkap terpasang menandakan aku sangat siap mencari nafkah hari ini. Setelah lima menit yang lalu ku gunakan untuk berdoa sekali lagi-agar langkahku diringankan-kini driver yang sudah menunggu tidak lebih dari dua menit itu terlihat sudah tidak sabar.

"Sesuai aplikasi ya pak. SMA Bakti Jaya."

Tidak perlu konfirmasi dua kali, motor bebek yang juga sedang berjuang mengharap pundi-pundi receh itu berlari menyusuri jalanan yang masih sepi.

….

"Gimana, sama Andre?"

Itu teguran pertama yang aku dengar dari seorang rekan yang duduk tepat di sebelah meja ku ketika sudah sampai di ruang guru. Agaknya dengan penuh penasaran, dia menyodorkan sebuah bakpia rasa keju, yang tentu saja tidak bisa kutolak.

"Tidak ada notif lagi hari ini," balasku sembari mengangkat handphone yang di layarnya masih terlihat laman penilaian driver ojek online.

"Sok banget tuh orang … emang dia pikir dia siapa?" 

"Sya!" 

Sasya, rekan sesama profesiku ini memang kadang sedikit keterlaluan. Gayanya yang ceplas-ceplos dan apa adanya itu terkadang perlu sedikit diperingatkan.

"Hampir tiga bulan, Dit. Tiga bulan leher lo digantung kayak gitu sama dia. Ga sakit? Ups, salah. Udah bukan sakit lagi ya lo. Udah mati rasa! Lo mau bukan cuman rasa lo yang mati? Tapi diri lo juga?"

"SYA!"

"Tiap hari lo sesak napas. Lo kurang tidur. Lo nggak nafsu makan. Lo gemeteran. Tiba-tiba nangis. Tiba-tiba ngelamun. Apa namanya kalo lo nggak cari mati?"

Mataku memerah. Ini masih pagi dan air mataku sudah hampir keluar. Tidak. Aku harus menahannya.

Beruntung, sebelum aku menangis lagi hari ini, bel sekolah berbunyi. Menandakan aku harus menuju ke kelas. Menyambut murid-muridku yang sudah siap menerima pembelajaran hari ini.

"Mati? Kayaknya gue nggak takut mati. Kalau memang itu harga yang harus gue bayar demi dia."

Entah setan apa yang bertandang menggantikan kesadaran, kalimat itu meluncur bebas. Membuat Sasya melongo tak percaya. Dia bahkan menyuruhku mengucap istighfar sebelum aku benar-benar pergi dari ruang guru yang mulai sepi itu.

"Selamat pagi, Bu Dita," sapa seorang murid yang sudah menungguku di depan pintu kelas. Dengan wajah sumringahnya, dia mengambil tas ranselku dengan sopan. Menyodorkan tangannya untuk menyambut tanganku dan menyalaminya. Bagas namanya. "Ibu sakit? Kok pucat?"

Demi mendengar pertanyaan itu, aku menggeleng cepat. Aku tidak sakit. Aku tidak merasa sedang sakit. Aku sehat. Bakpia rasa keju yang tadi kumakan membuat perutku kenyang dan tandanya aku sehat.

"Kok ibu pucat? Mau saya carikan air hangat?" ucap Bagas lagi. 

"Tidak usah, Bagas. Ibu tidak sakit. Sudah siap belajar kan? Yuk masuk kelas." Senyumku mengembang untuk pertama kalinya hari ini. Memaksa sudut bibirku ini bekerja sama memberikan yang terbaik untuk anak-anak manusia yang hidupnya masih sangat panjang.

Materi Simple Past sudah kusampaikan dengan baik. Masih ada sisa waktu sepuluh menit sebelum pergantian jam pelajaran selanjutnya. 

"Silahkan masih ada waktu sepuluh menit. Yang mau sarapan, boleh ya," ucapku ramah. 

Mereka bersorak. Gaduh mengeluarkan kotak makan warna-warni yang dibawa dari rumah.  

Aku tersenyum, mereka makan dengan lahap. Menghabiskan bekal dari sang bunda. 

"Ibu, saya punya sandwich sisa satu. Ibu mau?"

Mataku menatap kotak bekal berwarna biru yang sudah diletakkan di hadapanku. Sedetik kemudian, aku memindai siapa anak baik hati yang sudah menawarkan sarapannya.

"Bela, kamu habiskan saja. Mamamu membawakanmu banyak pasti supaya kamu makan lebih banyak." Aku berusaha menolak dengan halus. 

Bela, keturunan asli jawa itu berpindah duduk bersimpuh di sebelahku. 

"Tidak, bu. Ini bukan untuk saya. Mama saya selalu tahu kalau porsi makan saya hanya setara satu sandwich ini," jawabnya lemah.

"Lalu, kenapa mamamu membawakan dua?" tanyaku penasaran.

"Setiap hari, mama selalu membuat dua sandwich untuk sarapan. Satu untukku, dan satu untuk kakakku. Tapi, sekarang mama selalu lupa. Kalau kakak sudah tidak ada."

Dadaku seperti tertusuk. Kalimat 'tidak ada' itu, membuatku seperti dipukul oleh ratusan kayu.

"Mama selalu melamun setiap hari. Mama tetap melakukan kebiasaan seperti dulu. Mama masih menganggap kakak ada. Aku rindu mama, bu."

Kalimatnya berhenti. Wajahnya tertunduk. Aku hanya dapat mengelus kepalanya. Lalu mengambil kotak makan berisi sandwich itu dan menutupnya kembali.

"Terima kasih sandwichnya. Mulai besok, kalau mamamu lupa lagi membuatkan bekal untuk dua orang, kamu bisa berikan kepada ibu. Anggap ibu adalah kakakmu, ya."

Bela tersenyum. Senyum yang melihatkan lesung pipinya yang cukup dalam di sebelah kiri.

Aku jadi teringat mamaku di desa. Ibu. Aku memanggil beliau dengan ibu. Wanita yang kalau kalian bayangkan hubunganku dengan beliau, tidak semanis seperti relation kebanyakan orang. Kami dekat. Hanya saja tidak sedekat itu. Aku tidak menceritakan banyak hal ke beliau. Komunikasi kami, hanya seputar akan masak apa hari ini. Atau guyonan khas pedesaan yang tidak jauh dari membicarakan kelucuan tetangga sebelah.

“Pokok kamu bahagia, nduk. Mau jadi apa, mau hidup dengan siapa, mau punya uang atau enggak, yang penting kamu bahagia. Jangan biarkan satu hal pun yang mengganggu kebahagiaanmu. Apalagi sampai merenggut senyumanmu,” kata ibu setiap aku mudik menyambangi sebulan sekali.

Jam pulang sekolah berlalu begitu saja. Aku sudah siap membereskan meja kerja agar cepat sampai di kosan. Hanya tiga kelas yang aku masuki hari ini, tapi tubuhku rasanya ingin copot. 

“Emang bukan tubuh lo yang capek. Tuh, mental. Dah remuk. Coba deh, ngapain lo buru-buru pulang? Ujung-ujungnya juga ngerasa kesepian terus nangis.” Omel Sasya lagi saat melihatku sibuk membereskan kertas penilaian siswa. “Mending ikut gue ke mall, kita healing.”

Aku menoleh wajah ibu satu anak itu, menarik napas panjang, kemudian meletakkan sebuah kertas bertuliskan ‘Tanggal Tua’.

Sasya tertawa kecil. Manusia unik itu, usianya hanya selisih dua tahun denganku. Sejak awal masuk mengajar, dialah yang membuatku nyaman berada di lingkungan ini.

“Sya, thanks for everything. Hari ini gue oke kok. Gue beneran butuh istirahat.”

“Oke, Dit. If you need something, langsung call gue aja. Gue, anak gue, sama suami gue siap nemenin lo, he-he.”


Komentar