Langsung ke konten utama

PURNAMA DI UJUNG KASIH

 
          Malam ini lagi-lagi ditemani desiran ombak laut, kamu menggenggam tanganku. Sorotan matamu menelusuk jauh mengelilingi kornea mata. Aku kaku. Salah tingkah dengan perlakuanmu. Berkali-kali hal ini kamu lakukan, tapi kenapa aku masih saja deg-degan. Mungkin begini rasanya diistimewakan oleh seorang kamu. Mahasiswa rantau yang rela manjatuhkan cintanya padaku.
            Wes poó ndelok e” (Udahan dong liatnya). Kataku kemudian sambil berusaha melepas genggaman tanganmu yang masih hangat. Seakan tak terusik kamu masih saja menatapku.
            Lapo seh? Ndelok pacare dewe kok gak oleh” (Kenapa sih? Lihat pacarnya sendiri kok gak boleh).” Kamu menjawab sambil melepas pandangan itu. Beralih menatap purnama yang sedari tadi menjadi orang ketiga diantara kita.
            Aku mengikutimu mengamati purnama. Purnama berwarna kuning keemasan itu tampak gagah disana. Sinarnya seakan menyoroti seluruh langit. Menunjukkan eksistensinya sebagai benda paling cantik malam ini. Suasana pelabuhan juga semakin hangat, meskipun angit laut malam ini cukup kuat.
            Ngerti ga?” tanya mu tanpa menoleh sedikitpun kearah ku. Kamu masih menatap purnama itu. Hei, kenapa kamu sekarang jadi fokus ke purnama? Kenapa kamu jadi melihat purnama semesra itu? Heiii lihat aku.
            Aku hanya berdehem. Tak bermaksud menjawab pertanyaanmu, ataupun membuyarkan lamunanmu. Bibirku sengaja kubuat sedikit manyun. Kamu sepertinya menyadari tingkahku.
            Sek ayu-an sampeyan.” (Masih cantik kamu) Seakan bisa membaca hatiku. Kamu melanjutkan kalimatmu, “Purnama itu indah, saking indahnya dia punya sinar yang bisa tembus kemana-kemana. Ga ada satupun mata yang ga kagum. Lingkarannya sempurna, warna kuning keemasannya, ditambah awan-awan yang selalu menjadi temannya. Cantik kan?” Kamu masih tetap menatap purnama itu. Purnama yang katamu cantik. Tapi sedetik kemudian, kamu menatap ku lagi, dalam, sangat dalam.
            “Tapi jangan pernah ya iri sama purnama. Purnama ga pernah ada apa-apanya dari kamu. Kamu lebih lebih lebih.” Katamu sedikit berteriak, seakan ingin menunjukkan ke dunia pidatomu yang terdengar sedikit alay itu.
            “Karena sebenernya aku ga pengen kamu jadi purnama.”
            Aku terkejut. Apa katamu? Purnama yang tadi kamu kagumi, dan sekarang kamu bilang ga pengen aku jadi purnama?
            “Kamu gaperlu jadi purnama yang sinarnya dipersembahkan untuk seluruh alam, yang sinarnya cuman ada kalo malem aja. Kamu cukup jadi kamu, kamu yang cerewet kalo lagi seneng, yang diem kalo lagi kesel, sing senengane njiwit (yang sukanya nyubit), yang cantik kapanpun, dari pagi, siang, malem, kamu cantik. Dan cuman ke aku kamu persembahkan cantikmu. Cuman aku, sayang.”
            Nggeh, mek sampeyan tok.” (Iya, cuman kamu aja). Sedetik kemudian aku tersenyum.
            Purnama, aku ga lagi iri sama kamu. Aku sekarang berterima kasih. Karena kamu, aku tahu kekasihku tidak pernah berbohong. Karena secantik-cantiknya sinarmu, dia akan tetap mengatakan bahwa aku yang lebih cantik. Maaf purnama, aku menyaingimu. Bukan apa-apa, tapi aku tahu, kekasihku tak mungkin berbohong.

Komentar