Malam ini lagi-lagi ditemani desiran ombak laut, kamu menggenggam tanganku. Sorotan matamu menelusuk jauh mengelilingi kornea mata. Aku kaku. Salah tingkah dengan perlakuanmu. Berkali-kali hal ini kamu lakukan, tapi kenapa aku masih saja deg-degan. Mungkin begini rasanya diistimewakan oleh seorang kamu. Mahasiswa rantau yang rela manjatuhkan cintanya padaku. “ Wes poó ndelok e ” (Udahan dong liatnya). Kataku kemudian sambil berusaha melepas genggaman tanganmu yang masih hangat. Seakan tak terusik kamu masih saja menatapku. “ Lapo seh? Ndelok pacare dewe kok gak oleh ” (Kenapa sih? Lihat pacarnya sendiri kok gak boleh).” Kamu menjawab sambil melepas pandangan itu. Beralih menatap purnama yang sedari tadi menjadi orang ketiga diantara kita. ...